ILMU PENGASIHAN AURA YUSUF

Seperti yang telah saya jelaskan dalam Kajian Ilmu-Ilmu Gaib: “Tentang Ilmu Pengasihan”. Seseorang yang membekali dirinya dengan ilmu pengasihan lebih mudah sukses dalam kehidupannya. Karena akan lebih dikasihi banyak orang, diterima dimana saja, mudah bergaul jadi banyak teman dan saudara, cepat dapat pasangan, diperlakukan baik oleh siapa saja apalagi oleh calon mertua atau atasan/boss, mudah dipercaya teman/relasi/konsumen/klien, mudah cari kerja, mudah tembus tes wawancara pekerjaan dan akhirnya rejekipun jadi lancar.

Ada banyak sekali Ilmu-Ilmu Pengasihan. Berikut ini saya jabarkan salah satu Ilmu Pengasihan Umum yang bernama Ilmu Pengasihan Aura Yusuf.
RIWAYAT
Sesungguhnya Tuhan pernah menciptakan satu anak manusia yang diberi kelebihan berupa wajah yang rupawan dan kerajaan yang besar. Ia disebut sebagai manusia tertampan didunia sepanjang masa. Ketampanan semua orang dijagad raya ini tidak bisa dibandingkan dengan ketampanannya. Ibarat bila sekarang ada pemenang audisi sebagai orang tertampan didunia, maka ketampanan orang tersebut baru seperseratusnya dari ketampanan hamba Tuhan ini.
Semua wanita baik tua/muda, single atau sudah bersuami, bila melihatnya maka akan kagum luarbiasa. Bila semua wanita yang sedang mengupas buah dengan pisau menatapnya, maka akan terlenalah semua wanita itu hingga teririslah tangannya oleh pisau yang sedang dipegangnya. Karena ketampanannya orang ini, semua wanita jadi terlena, jatuh hati dan lupa kepada suami.
Dan kaum laki-laki pun mengakui ketampanan orang ini, hingga selalu mempunyai rasa was-was dan khawatir bila istrinya terlena terhadapnya.
Orang tertampan tersebut adalah Yusuf as. Selain dikarunia bagus rupa, bagus budi pekerti, kerajaan yang besar beliau juga seorang Nabi, hamba utusan Tuhan.
ILMU PENGASIHAN AURA YUSUF
Berangkat dari cerita keelokan Nabi Yusuf as inilah, kemudian muncul yang namanya Ilmu Pengasihan Aura Yusuf. Ada juga yang menyebutnya Doa Nabi Yusuf.
Doanya sebagai berikut:
Doa Yusuf
Allahummaj ‘alnii nuuru Yusufa ‘ala wajhii fa man ro aanii yuhibbunii mahabbatani.
Artinya: “Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah nur cahaya (ketampanan) Nabi Yusuf AS atas wajahku, barang siapa yang melihatku ia menjadi kagum dan cinta kasih kepadaku”.
Cara mengamalkannya:
Untuk menghayati agar Ilmu Pengasihan ini terpatri dalam diri, maka sebelumnya kerjakan dulu Puasa selama 7 hari.
Selama masa puasa dan setelah usai menjalani puasa amalkanlah doa Yusuf tersebut sebagai berikut:
  • Setiap habis shalat, bacalah doa diatas 7 kali sambil menahan nafas. Kemudian tiupkan ke kedua telapak tangan lalu diusapkan diwajah dan badan.
  • Pada saat bercermin, bacalah doa diatas 7 kali.
  • Pakailah minyak wangi (parfum) Non Alkohol, sebelum memakainya bacalah doa diatas 7 kali.
  • Bagi yang pria: Setiap bulan purnama (tanggal 15 bulan Jawa/Arab), tataplah bulan kemudian bacalah doa tersebut 7 kali. Sertai dengan sugesti yang kuat.
  • Bagi yang Wanita: Pada tengah malam di hari kelahiran anda (weton), mandilah dengan air bunga setaman. Sesudah mandi bacalah doa tersebut 7 kali.
Dengan amalan diatas niscaya Aura kharismatik dan inner beauty anda akan semakin meningkat. Silahkan dites dengan foto aura. Bila kurang jelas, dapat hubungi saya via email atau lewat blog ini.
Amalan Doa Khusus :
  1. Lakukan selama 7 malam berturut-turut. Bacalah doa diatas sebanyak … kali.
  2. Lalu ucapkan dengan agak keras (mantap) : “Wahai saudaraku Yusuf, aku mencintai …, aku ingin ia juga mencintaiku. Ya Allah kabulkanlah keinginanku”.
***
Pantangan : 
Jangan sekali-kali merusak pagar ayu!!
***
More

Keluarga kang arwan




More

Teks Farsyi turob


فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي


وَالْأَهْلُ أَيْنَ حَنَانُهُمْ بَاعُوا وَفَائِي *** وَالصَّحْبُ أَيْنَ جُمُوْعُهُمْ تَرَكُوا إِخَائِي

وَالْمَالُ أَيْنَ هَنَاءُهُ صَارَ وَرَائِي *** وَالْإِسْمُ أَيْنَ بَرِيْقُهُ بَيْنَ الثَّنَائِي

هَذِي نِهَايَةُ حَالِي،فَرْشِي التُّرَاب


فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي




وَالْحُبُّ وَدَّعَ شَوْقَهُ وَبَكََى رِثَائِي *** وَالدَّمْعُ جَفَّ مَسِيْره بَعْدَ الْبُكَائِي

وَالْكَوْنُ ضَاقَ بِوُسْعِهِ ضَاقَتْ فَضَائِي *** فَاللَّحْدُ صَارَ بِجُثَّتِي أَرْضَي سَمَائِي

هَذِي نِهَايَةُ حَالِي ،فَرْشِي التُّرَابْ


فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي
by arifin saputra
More

Lirik Khudzuuni






 Arab: 
اِلَى الْحَبِيْبِ خُذُوْنِي # اِلَى ضِيَاءِ عُيُوْنِي 
ِالَى الْمُخْتَارْ حَيْثُ اْلأَنْوَارْ # وَهُنَاكَ دَعُوْنِي دَعُوْنِي دَ عُوْنِي

خُذُوْنِي فَبُعْدِي طَالَ وَزَادَ # أُمَتِّعُ بَصَرِي وَكَذَا الْفُؤَادْ
وَأَلْقَى هَناَىَ وَأَلْقَى مُنَاىَ # لِنُوْرِ الْعَيْن لِطَهَ الزَّيْن
وَهُنَاكَ دَعُوْنِي دَعُوْنِيدَ عُوْنِي

دَقَائِقَ عِنْدَ مَقَامِ الْحَبِيْب # تُزِيْلُ هُمُوْمَ الْمُحِبِّ الْكَئِيْب
وَأَلْقَى هَناَىَ وَأَلْقَى مُنَاىَ # لِنُوْرِ الْعَيْن لِطَهَ الزَّيْن
وَهُنَاكَ دَعُوْنِي دَعُوْنِيدَ عُوْنِي

Latin:
Ilal habiibi khudzuunii  #  Iladh dhiyaa'i 'uyuunii
Ilal mukhtaar haizul anwaar  #  Wa hunaaka da'unii da'unii da'unii

Khudzuunii fabu'dii thoola wazaad  #  'Umatti'u bashorii wa kadzal fu'aad
Wa alqo hanaaya wa alqo munaaya
Linuuril 'ain lithohaz zain  #  Wa hunaaka da'unii da'unii da'unii

Daqoo'iqu 'inda maqoomil habiib  #  Tuziilu humuumal muhibbil ka'iib
Wa alqo hanaaya wa alqo munaaya
Linuuril 'ain lithohaz zain  #  Wa hunaaka da'unii da'unii da'unii
More

teks Aqidatul Awam


AQIDATUL AWWAM

الشيخ أحمد المرزوقي المالكي
ٍ
Asy-Syeikh Ahmad Al Marzuqi Al Maliki


أَبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْـمَنِ وَبِـالـرَّحِـيـْمِ دَائِـمِ اْلإِحْـسَانِ
Saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya
فَالْـحَـمْـدُ ِللهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ اْلآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلاَ تَـحَـوُّلِ
Maka segala puji bagi Alloh Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan
ثُـمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَرْمَـدَ ا عَـلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Alloh
وَآلِهِ وَصَـحْـبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ سَـبِـيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah
وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَـهْ مِنْ وَاجِـبٍ ِللهِ عِـشْرِيْنَ صِفَـهْ
Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Alloh itu mempunyai 20 sifat wajib
فَـاللهُ مَـوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي مُخَـالِـفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْـلاَقِ
Alloh itu Ada, Qodim, Baqi dan berbeda dengan makhlukNya secara mutlak
وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ قَـادِرٌ مُـرِيـْدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu
سَـمِـيْعٌ الْبَـصِيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Alloh mempunyai 7 sifat yang tersusun
فَـقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ
yaitu Berkuasa, Menghendaki, Mendengar, Melihat, Hidup, Mempunyai Ilmu, Berbicara secara terus berlangsung
وَ جَـائـِزٌ بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ تَـرْكٌ لِـكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ
Dengan karunia dan keadilanNya, Alloh memiliki sifat boleh (wenang) yaitu boleh mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya
أَرْسَـلَ أَنْـبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ بِالصِّـدْقِ وَالـتَّـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ
Alloh telah mengutus para nabi yang memiliki 4 sifat yang wajib yaitu cerdas, jujur, menyampaikan (risalah) dan dipercaya
وَجَـائِزٌ فِي حَقِّـهِمْ مِنْ عَـرَضِ بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَـرَضِ
Dan boleh didalam hak Rosul dari sifat manusia tanpa mengurangi derajatnya,misalnya sakit yang ringan
عِصْـمَـتُهُمْ كَسَـائِرِ الْمَلاَئِـكَهْ وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الْـمَـلاَئِكَهْ
Mereka mendapat penjagaan Alloh (dari perbuatan dosa) seperti para malaikat seluruhnya. (Penjagaan itu) wajib bahkan para Nabi lebih utama dari para malaikat
وَالْـمُسْـتَحِيْلُ ضِدُّ كُـلِّ وَاجِبِ فَـاحْـفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ
Dan sifat mustahil adalah lawan dari sifat yang wajib maka hafalkanlah 50 sifat itu sebagai ketentuan yang wajib
تَـفْصِيْـلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِيْـنَ لَزِمْ كُـلَّ مُـكَـلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
Adapun rincian nama para Rosul ada 25 itu wajib diketahui bagi setiap mukallaf, maka yakinilah dan ambilah keuntungannya
هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُـوْدٌ مَـعْ صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ
Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud serta Sholeh, Ibrahim ( yang masing-masing diikuti berikutnya)
لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقٌ كَـذَا يَعْـقُوْبُ يُوْسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذَى
Luth, Ismail dan Ishaq demikian pula Ya'qub, Yusuf dan Ayyub dan selanjutnya
شُعَيْبُ هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْـيَسَعْ ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمانُ اتَّـبَـعْ
Syuaib, Harun, Musa dan Alyasa', Dzulkifli, Dawud, Sulaiman yang diikuti
إلْـيَـاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى عِـيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
Ilyas, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Thaha (Muhammad) sebagai penutup, maka tinggalkanlah jalan yang menyimpang dari kebenaran
عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ
Semoga sholawat dan salam terkumpulkan pada mereka dan keluarga mereka sepanjang masa
وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلاَ أَبٍ وَأُمْ لاَ أَكْـلَ لاَ شـُرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَهُمْ
Adapun para malaikat itu tetap tanpa bapak dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur
تَفْـصِـيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْـلُ مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِـيْلُ
Secara terperinci mereka ada 10, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil
مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا عَـتِـيْدُ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتـَذَى
Munkar, Nakiir, dan Roqiib, demikian pula ‘Atiid, Maalik, dan Ridwan dan selanjutnya
أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْـلُهَا تَـوْارَةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا
Empat dari Kitab-Kitab Suci Allah secara terperinci adalah Taurat bagi Nabi Musa diturunkan dengan membawa petunjuk
زَبُـوْرُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيْـلٌ عَلَى عِيْـسَى وَفُـرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَـلاَ
Zabur bagi Nabi Dawud dan Injil bagi Nabi Isa dan AlQur’an bagi sebaik-baik kaum (Nabi Muhammad SAW)
وَصُحُـفُ الْـخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْـمِ فِيْـهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيْـمِ
Dan lembaran-lembaran (Shuhuf) suci yang diturunkan untuk AlKholil (Nabi Ibrohim) dan AlKaliim (Nabi Musa) mengandung Perkataan dari Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui
وَكُـلُّ مَـا أَتَى بِهِ الـرَّسُـوْلُ فَحَـقُّـهُ الـتَّـسْـلِـيْمُ وَالْقَبُوْلُ
Dan segala apa-apa yang disampaikan oleh Rosulullah, maka kita wajib pasrah dan menerima
إِيـْمَـانُـنَا بِـيَـوْمِ آخِرٍ وَجَبْ وَكُـلِّ مَـا كَـانَ بِـهِ مِنَ الْعَجَبْ
Keimanan kita kepada Hari Akhir hukumnya wajib, dan segala perkara yang dahsyat pada Hari Akhir
خَـاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِـبِ مِمَّـا عَـلَى مُكَـلَّفٍ مِنْ وَاجِـبِ
Sebagai penutup untuk menerangkan ketetapan yang wajib, dari hal yang menjadi kewajiban bagi mukallaf
نَـبِـيُّـنَـا مُحَمَّدٌ قَـدْ أُرْسِلاَ لِلْـعَالَمِـيْـنَ رَحْـمَـةً وَفُضِّلاَ
Nabi kita Muhammad telah diutus untuk seluruh alam sebagai Rahmat dan keutamaan diberikan kepada beliau SAW melebihi semua
أَبـُوْهُ عَـبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِـبْ وَهَـاشِمٌ عَبْـدُ مَنَافٍ يَـنْـتَسِبْ
Ayahnya bernama Abdullah putera Abdul Mutthalib, dan nasabnya bersambung kepada Hasyim putera Abdu Manaf
وَأُمُّـهُ آمِـنَـةُ الـزُّهْـرِيـَّـهْ أَرْضَـعَـهُ حَـلِيْمَـةُ السَّعْدِيـَّهْ
Dan ibunya bernama Aminah Az-Zuhriyyah, yang menyusui beliau adalah Halimah As-Sa’diyyah
مـَوْلِدُهُ بِـمَـكَـةَ اْلأَمِيْـنَـهْ وَفَـاتُـهُ بِـطَـيْـبَةَ الْـمَدِيْنَهْ
Lahirnya di Makkah yang aman, dan wafatnya di Toiybah (Madinah)
أَتَـمَّ قَـبْـلَ الْـوَحِيِ أرْبَعِيْنَا وَعُمْـرُهُ قَـدْ جَـاوَزَ الـسِّـتِّيْنَا
Sebelum turun wahyu, nabi Muhammad telah sempurna berumur 40 tahun, dan usia beliau 60 tahun lebih
وسـَبْـعَةٌ أَوْلاَدُهُ فَـمِـنْـهُـمُ ثَلاَثَـةٌ مِـنَ الـذُّكُـوْرِ تُـفْهَمُ
Ada 7 orang putera-puteri nabi Muhammad, diantara mereka 3 orang laki-laki, maka pahamilah itu
قـَاسِـمْ وَعَـبْدُ اللهِ وَهْوَ الطَّيـِّبُ وَطَـاهِـرٌ بِـذَيْـنِ ذَا يُـلَقَّبُ
Qasim dan Abdullah yang bergelar At-Thoyyib dan At-Thohir, dengan 2 sebutan inilah (At-Thoyyib dan At-Thohir) Abdullah diberi gelar
أَتَـاهُ إِبـْرَاهِـيْـمُ مِنْ سَـرِيـَّهْ فَأُمُّهُ مَارِيـَةُ الْـقِـبْـطِـيَّـهْ
Anak yang ketiga bernama Ibrohim dari Sariyyah (Amat perempuan), ibunya (Ibrohim) bernama Mariyah Al-Qibtiyyah
وَغَـيْـرُ إِبـْرَاهِيْمَ مِنْ خَـدِيْجَهْ هُمْ سِتَـةٌ فَـخُـذْ بِـهِمْ وَلِـيْجَهْ
Selain Ibrohim, ibu putera-puteri Nabi Muhammad berasal dari Khodijah, mereka ada 6 orang (selain Ibrohim), maka kenalilah dengan penuh cinta
وَأَرْبَعٌ مِـنَ اْلإِنـَاثِ تُـذْكَـرُ رِضْـوَانُ رَبِّـي لِلْـجَـمِـيْعِ يُذْكَرُ
Dan 4 orang anak perempuan Nabi akan disebutkan, semoga keridhoan Allah untuk mereka semua
فَـاطِـمَـةُ الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ وَابـْنـَاهُمَا السِّبْطَانِ فَضْلُهُمْ جَلِيْ
Fatimah Az-Zahro yang bersuamikan Ali bin Abi Tholib, dan kedua putera mereka (Hasan dan Husein) adalah cucu Nabi yang sudah jelas keutamaanya
فَـزَيْـنَـبٌ وبَـعْـدَهَـا رُقَـيَّـهْ وَأُمُّ كُـلْـثُـوْمٍ زَكَـتْ رَضِيَّهْ
Kemudian Zaenab dan selanjutnya Ruqayyah, dan Ummu Kultsum yang suci lagi diridhoi
عَـنْ تِسْـعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى خُـيِّـرْنَ فَاخْـتَرْنَ النَّـبِيَّ الْمُقْتَفَى
Dari 9 istri Nabi ditinggalkan setelah wafatnya, mereka semua telah diminta memilih syurga atu dunia, maka mereka memilih nabi sebagai panutan
عَـائِـشَـةٌ وَحَـفْصَةٌ وَسَـوْدَةُ صَـفِـيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَةٌ وَ رَمْلَةُ
Aisyah, Hafshah, dan Saudah, Shofiyyah, Maimunah, dan Romlah
هِنْـدٌ وَ زَيْـنَبٌ كَـذَا جُوَيـْرِيَهْ لِلْـمُـؤْمِنِيْنَ أُمَّـهَاتٌ مَرْضِيَهْ
Hindun dan Zaenab, begitu pula Juwairiyyah, Bagi kaum Mu’minin mereka menjadi ibu-ibu yang diridhoi
حَـمْـزَةُ عَـمُّـهُ وعَـبَّـاسٌ كَذَا عَمَّـتُـهُ صَـفِيَّـةٌ ذَاتُ احْتِذَا
Hamzah adalah Paman Nabi demikian pula ‘Abbas, Bibi Nabi adalah Shofiyyah yang mengikuti Nabi
وَقَـبْـلَ هِـجْـرَةِ النَّـبِيِّ اْلإِسْرَا مِـنْ مَـكَّـةٍ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى
Dan sebelum Nabi Hijrah (ke Madinah), terjadi peristiwa Isro’. Dari Makkah pada malam hari menuju Baitul Maqdis yang dapat dilihat
بَـعْـدَ إِسْـرَاءٍ عُـرُوْجٌ لِلـسَّمَا حَتىَّ رَأَى الـنَّـبِـيُّ رَبـًّا كَـلَّمَا
Setelah Isro’ lalu Mi’roj (naik) keatas sehingga Nabi melihat Tuhan yang berkata-kata
مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْـتَرَضْ عَـلَـيْهِ خَمْساً بَعْدَ خَمْسِيْنَ فَرَضْ
Berkata-kata tanpa bentuk dan ruang. Disinilah diwajibkan kepadanya (sholat) 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu
وَبَــلَّـغَ اْلأُمَّــةَ بِـاْلإِسـْرَاءِ وَفَـرْضِ خَـمْـسَةٍ بِلاَ امْتِرَاءِ
Dan Nabi telah menyampaikan kepada umat peristiwa Isro’ tersebut. Dan kewajiban sholat 5 waktu tanpa keraguan
قَـدْ فَـازَ صِـدِّيْقٌ بِتَـصْدِيْقٍ لَـهُ وَبِـالْـعُرُوْجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ
Sungguh beruntung sahabat Abubakar As-Shiddiq dengan membenarkan peristiwa tersebut, juga peristiwa Mi’raj yang sudah sepantasnya kebenaran itu disandang bagi pelaku Isro’ Mi’roj
وَهَــذِهِ عَـقِـيْـدَةٌ مُـخْـتَصَرَهْ وَلِـلْـعَـوَامِ سَـهْـلَةٌ مُيَسَّرَهْ
Inilah keterangan Aqidah secara ringkas bagi orang-orang awam yang mudah dan gampang
نـَاظِـمُ تِلْـكَ أَحْـمَدُ الْمَرْزُوقِيْ مَـنْ يَنْـتَمِي لِلصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ
Yang di nadhomkan oleh Ahmad Al Marzuqi, seorang yang bernisbat kepada Nabi Muhammad (As-Shodiqul Mashduq)
وَ الْحَـمْـدُ ِللهِ وَصَـلَّى سَـلَّمَا عَلَـى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا
Dan segala puji bagi Allah serta Sholawat dan Salam tercurahkan kepada Nabi sebaik-baik orang yang telah mengajar
وَاْلآلِ وَالـصَّـحْـبِ وَكُـلِّ مُرْشِدِ وَكُـلِّ مَـنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِي
Juga kepada keluarga dan sahabat serta orang yang memberi petunjuk dan orang yang mengikuti petunjuk
وَأَسْـأَلُ الْكَـرِيْمَ إِخْـلاَصَ الْعَمَلْ ونَـفْـعَ كُـلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ
Dan saya mohon kepada Allah yang Maha Pemurah keikhlasan dalam beramal dan manfaat bagi setiap orang yang berpegang teguh pada aqidah ini
أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّلِ تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ
Nadhom ini ada 57 bait dengan hitungan abjad, tahun penulisannya 1258 Hijriah
سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَامِ مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Aku namakan aqidah ini Aqidatul Awwam, keterangan yang wajib diketahui dalam urusan agama dengan sempurna
More

Ya Robbana Tarofna


Doa ini merupakan doa yang selalu dibaca selepas mengaji bersama guru kami Alm. MUALLIM KH.SYAFI'I HADZAMI, semoga Allah memberiknya tempat yang terbaik di sisi-Nya dan memberi manfaat dan keberkahn kpd ilmu yang diwariskannya.

يَا رَبَّنَا اعْتَرَفْنَا بِاَنَّنَا اقْتَرَفْنَا
 Ya tuhan kami, kami mengakui # Bahwa sesungguhnya kami bermuat dosa

 وَاَنَّنَا اَسْرَفْنَا عَلَى لَظَى اَشْرَفْنَا
 Dan sesungguhnya kami melampui batas # Sehingga tidak terasa bahwa kami telah mendekati neraka

فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةْ تَغْسِلْ لِكُلِّ حَوْ بَةْ
Maka ampunilah kami dengan ampunan # Yang dapat membasuh semua dosa kami

وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ وَآمِنِ الرَّوْعَاتِ
 Tutupilah semua aib kami # Dan tentramkanlah semua ketakutan dan kegelisahan kami

واغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا رَبِّ وَمَوْلُوْدِ يْنَا
Dan ampunilah para orang tua kami # Ya tuhanku, dan juga semua anak cucu kami

وَالْآلِ وَالْاِخْوَانِ وَسَائِرِ الْخِلَّان
 Dan semua keluarga, serta semua saudara kami # Dan semua sahabat karib kami

 وَكُلِّ ذِيْ مَحَبَّةْ اَوْ جِِيْرَةٍ اَوْ صُحْبَةْ
Dan semua orang yang mencintai karena Allah pada kami # Atau yang mempunyai hubungan tetangga atau persahabatan

 وَالْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعْ اَمِيْنَ رَبِّ اسْمَعْ
  Dan semua orang-orang muslim seluruhnya # Ya tuhan kami terimalah dan kabulkanlah permohonan kami

 فَضْلًا وَجُوْدًا مَنَّا لَا بِاكْتِسَابٍ مِنَّا
 Berdasarkan keutamaan,kemurahan dan karuniaMu, Ya Allah # Tidak berdasarkan hasil usaha kami

 بِالْمُصْطَفَى الرَّسُوْلِ نَحْظَى بِكُلِّ سُوْلِ
 Dengan wasilah nabi yang terpilih yaitu Rosul Allah # Dalam setiap permohonan kami di ijabahi

صَلَّى وَسَلَّمْ رَبِّي عَلَيْهِ عَدَّ الْحَبِّ
 Semoga tuhan kami mencurahkan rohmat dan salam # Pada rosul Allah sejumlah biji-bijian

 وَآلِهِ وَالصَّحْبِ عَدَدَ طَشِّ السُّحْبِ
 Dan pada keluarga nabi dan para sahabat # Sejumlah curah hujan dari gumpalan mendung

 وَالْحَمْدُ لِلْاِلَهِ فِي الْبَدْءِ وَالتَّنَاهِي
 Segala puji kepunyaan Allah # Diawal dan Akhir

Arab-indonesia
Ya robbana’tarofna                bi annanaqtarofnaa
Wa innanaa asrofna            wa ‘ala lazho asyrofna
Fa tub ‘alaina taubah            tagsilu kulla haubah
Wastur lanal ‘aurootii            wa aaminirrou’atii
Waghfir li waalidiinaa            robbi wa mauluudiinaa
Wal ahli wal ikhwaani            wa saairil khillani
Wa kulli dzi mahabbah            aw jiirotin aw shuhbah
Wal muslimiina ajma’            aamiina robbiyasma’
Fadhlaw wa juudammanna        laa bik tisaabim minnaa
Bil mushtofar rosuuli            nuhzho bi kulli suuli
Sholla wa sallam robbi            alaihi ‘addal habbi
Wa aalihi wa shohbi            ‘idaada tosysyis suhbi
Wal hamdu lil ilaahi                fil bad i wat tanaahi
More

Apa itu ilmu hikmah?

Amalan ilmu hikmah adalah suatu amalan yang diambil dari ayat-ayat suci Al-Qur'an,yang diamalkan dengan tujuan tertentu.Dan dalam Ayat-ayat Al-Qur'an sangat banyak fungsinya yang bisa di manfaatkan dalam berbagai hal,seperti: menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan,dan kali ini aku sendiri ingin berbagi dengan temen-temen ,dan mengamalkan suatu ilmu hikmah yang aku ketahui dari berbagai sumber yang telah aku pelajari,dan sesungguhnya dalam berhasil atau tidaknya amalan ilmu hikmah yang kita amalkan tergantung dari dari diri kita sendiri, serius atau tidak dalam mengamallkannya .Karena dalam ilmu hikmah sendiri masih dibagi lagi tingkat kematangan ilmunya,bila seseorang hamba ikhlas mengamalkannya dan telah diamalkan dalam waktu yang lama ,maka ilmu hikmah itu sendiri akan mendarah daging dalam tubuhnya atau menyatu dan sudah menjadi kebiasaan untuk mengamalkannnya.Maka Allah SWT akan mengabulkan dan memenuhi permintaan hambanya tersebut ,lantaran ayat-ayat Al-Qur'an yang diamalkannya.Sekarang aku ingin mengamalkannya kepada temen-temen suatu amalan ilmu hikmah ,yang bila kita amalkan terus,insyallah bila kita dalam keadaan yang terdesak atau mengancam nyawa kita,maka Allah SWT akan memberikan pertolongan melalui para malaikatnya:-Surat Al-Fatihah ,[ayat 3]-amalkan ayat tersebut ,setelah sholat semampu kita.Agar amalan tersebut lebih menyatu dan meresap dalam diri/Qolbu kita-bila dalam keadaan yang membahayakan segera baca amalan tersebut ,satu kali.Amalan adalah suatu bacaan,seperti :dzikir, yang sebetulnya tidak diwajibkan , tapi bagi diri kita itu wajib untuk dibaca ,dan mungkin bagi orang lain tidak perlu.Mungkin itu sebagian penjelasan dari aku semoga bermanfaat bagi temen-temen ,dan mohon sarannya bila ada kesalahan.Dan mungkin di kesempatan lain aku memberikan lagi amalan-amalan ilmu hikmah.

ILMU HIKMAH



" Allah ada dalam setiap hembusan nafas kita ", kata salah seorang ahli hikmah, yang juga merupakan Wali Allah, yaitu Imam Al-Ghazali. Beliau dikenal dengan ajaran estoterik-nya mengenai nafas Allah, ungkapan beliau yang terkenal adalah sebagai berikut :

" Fayalma'u fil-qulubi min waroo'i sitril-ghoibi syay'un min ghoro'ibil ‘ilmi", yang artinya : Maka bersinarlah dalam hati ini, pengetahuan yang unik dan luar biasa, dari balik dinding kegaiban. Beliau membuktikan bahwa gaibnya Allah adalah kekuatan, dan anugerah Allah ( fadlal Allah ), dapat diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Sekarang bagaimana mempraktekkan nafas Allah dalam praktek peningkatan konsentrasi kita kepada Allah ?

Para ahli hikmah manafsirkan bahwa berdzikir Allah....Allah....., adalah cara utama untuk mencapai hal tersebut. Selain peningkatan ibadah kepada Allah, juga kita disadarkan ada Allah disetiap nafas kehidupan kita.

Kemudian dalam prakteknya inilah yang harus kita kerjakan :

> Ambillah nafas yang cukup sebelum berdzikir Allah, kemudian hembuskan nafas kita sambil mengucap, "Allah..." sampai nafas kita habis. > Satu kalimah Allah, dalam satu tarikan dan hembusan nafas. Al ( lah* )........ tarik......

( Al* ) lah.... buang.

Pada mulanya kita merasakan nafas tersenggal seperti kehabisan nafas, tetapi dengan latihan yang cukup, nantinya kita akan merasakan semacam enerji adikodrati mulai mengisi lorong-lorong pernafasan menuju kepusat diri (pusar) dan akhirnya berjalan keseluruh tubuh. Tubuh terasa ringan, kon-sentrasi kita meningkat, dan tanpa disadari kita telah mengolah kemampuan ilmu hikmah kita kejajaran yang lebih tinggi lagi.

Membiasakan bernafas Allah, berarti kita mulai meningkatkan konsentrasi ibadah kita kehadirat Allah. Dan Insya Allah akan memberikan kita anugerah berupa kekuatan-kekuatan dan pengetahuan yang diatas manusia biasa.

Kuncinya adalah ikhlas, sabar, tekun & selalu Tawakal kepada Allah SWT. Amin....
More

APA ITU HIKMAH?

Sesungguhnya hikmah dalam mendakwahkan tauhid dan telah dicontohkan oleh Rasulullah dan seluruh para Rasul sebelumnya ‘alayhimus shalawaatu wa sallam. Sesungguhnya hikmah merupakan ruh dalam dakwah, tidaklah hati yang sekeras batu akan melunak melainkan dengan hikmah dalam mendakwahinya –setelah taufiq dari Allah.
Apa Itu Hikmah?
Ibnu Faros mengatakan, secara bahasa hikmah berasal dari 3 huruf, yaitu (الحاء), (الكاف), dan (الميم). Sedangkan makna asalnya adalah al man’u (mencegah/ melarang), menjadi al hukmu yang artinya mencegah kedzoliman. Kemudian al hikmah dapat diqiyaskan dengan al man’u karena mencegah kebodohan[1]. Ibnu Mandzur menjelaskan juga hikmah berarti seseorang yang mengetahui keutamaan sesuatu dengan keutamaan ilmunya[2].
Adapun secara istilah, maka Al Fairuz Abadiy rahimahullah menyebutkan bahwa dalam Al Quran Al Karim terdapat 6 makna dari Al Hikmah yakni sebagai berikut[3],
1. Penjelas Dari Al Qur’an (Al Hadits)
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Baqarah,

وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ

Dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. (Al Baqarah 231)
2. Nubuwah Dan Risalah Kenabian
Dalilnya sebagaimana difirmankan Allah saat mengisahkan Nabiyullah DaudAlaihissalam,

وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) kekuasaan dan al hikmah (risalah kenabian) (Al Baqarah 251)
3. Kefaqihan Dalam Din
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (Maryam 12)
4. Nasehat Yang Baik
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian(Al An‘am 89)
5. Ayat Al Quran Yang Berisi Perintah-Perintah Dan Larangan-Larangan
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik (An Nahl 125)
6. Hujjah Aqliy Yang Dapat Mencocoki Hukum Syar’i
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ

Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki (Al Baqarah 269)
Beberapa Pendapat Ulama Lainnya
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma secara marfu’ bahwa yang dimaksud dengan al hikmah adalah pengetahuan tentang Al Quran, ayat nasikh mansukhnya, ayat muhkam dan mutasyabihnya, apa yang dihalalkan dan yang diharamkan, dan contoh-contohnya.
Ibrahim An Nakho’i rahimahullah mengatakan al hikmah adalah al fahmu atau pemahaman.
Insya Allah selanjutnya akan kita bahas bersama pengertian al hikmah yang lain, pembagian al hikmah, dan beberapa contoh hikmah dalam Al Quran maupun Al Hadits. Allahul Musta’an.
Banyak kuambil faedah dari sebuah kutaib
Al Hikmah, karya Syaikh Nashir ibn Sulaiman Al ‘Umar, hafidzahullah
Siang nan panas di Masjid kami tercinta,
al faqir ilaa rahmatihi Ta’ala, Abu Luqman.

[1] Mu’jam Maqayis Al Lughah Li Ibnil Faros
[2] Lisaanul ‘Arab
[3] Bashoir Dzawiy Tamyiz Fii Lathoifil Kitabil ‘Aziz
More

NABI MUHAMMAD SAW

Disadari atau tidak, wujud Tuhan  pasti  dirasakan  oleh  jiwa
manusia baik redup atau benderang. Manusia menyadari bahwa
suatu ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini mengantarkannya
kepada pertanyaan tentang apa yang akan terjadi sesudah
kematian, bahkan menyebabkan manusia berusaha memperoleh
kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu.
 
Wujud Tuhan yang dirasakan, serta hal-ihwal kematian,
merupakan dua dari sekian banyak faktor pendorong manusia
untuk berhubungan dengan Tuhan dan memperoleh informasi yang
pasti. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukan hal itu.
Namun, kemurahan Allah menyebabkan-Nya memilih manusia
tertentu untuk menyampaikan pesan-pesan Allah, baik untuk
periode dan masyarakat tertentu maupun untuk seluruh manusia
di setiap waktu dan tempat. Mereka yang mendapat tugas itulah
yang dinamai Nabi (penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan).
 
Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya
menginforrnasikan bahwa,
 
"Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah
pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir
[35]: 24).
 
Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,
 
"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka
ada yang telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang
tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)
 
Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima
Nabi/Rasul; delapan belas di antaranya disebutkan dalam
Al-Quran surat Al-An'am (6): 83-86, sisanya didapatkan dari
berbagai ayat.
 
Nabi Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf
(7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan
khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).
 
Masa Prakelahiran
 
Al-Quran menegaskan bahwa para nabi telah pernah diangkat
janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad Saw.
 
"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi,
'Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan
hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang
membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman
kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman, 'Apakah kamu
mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka
menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali'Imran [3]: 81)
 
Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda,
 
"Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya,
seandainya Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan
mengikutiku" (HR Imam Ahmad)
 
Tidak jelas kapan dan bagaimana perjanjian yang disinggung
ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah Swt.
telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad Saw., jauh
sebelum kelahiran beliau. Karena itu pula sementara pakar
menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran,
kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta
ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang
dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya
kepada seluruh umat manusia kelak.
 
Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu
berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan
lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim
bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah
(hamba Allah) , ibunya Aminah (yang memberi rasa aman),
kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang
tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan
bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang
menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan
mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan
Nabi Muhammad Saw. Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan
yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
 
Al-Quran surat Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa
Nabi Muhammad Saw. pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka
mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS
Al-A'raf [7]: 157).
 
Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu,
dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan
33 ayat 2:
 
"... bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit
untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan
cahayanya dari gunung Paran."
 
Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran"
menurut Kitab Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat
putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar
memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat tersebut
adalah Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab
Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya
wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa a.s., Seir tempat Nabi
Isa a.s. , dan Makkah tempat Nabi Muhammad Saw. Sejarah
membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.
 
Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146
menyatakan bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad Saw.),
sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka, bahkan salah
seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu
Abdullah bin Salam pernah berkata, "Kami lebih mengenal dan
lebih yakin tentang kenabian Muhammad Saw. daripada pengenalan
dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan
kami menyeleweng."
 
Masa Prakenabian
 
Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. sebelum kenabian beliau. Antara lain,
 
"Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia
memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" (QS Al-Dhuha [93]:
6-8).
 
Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan
dilindungi oleh paman dan kakeknya. Beliau hidup di dalam
keresahan dan kebimbangan melihat sikap masyarakatnya, lalu
Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan
Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan
warisan untuknya, kecuali beberapa ekor kambing dan harta
lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan,
khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga dengan
istrinya, Khadijah a.s.
 
Ayat lain yang oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. pada masa kanak-kanaknya, adalah surat Alam
Nasyrah ayat pertama:
 
"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu?"
 
Sebagian ulama mengartikan kata nasyrah dengan
"memotong/membedah." Memang, bila dikaitkan dengan sesuatu
yang bersifat materi, artinya demikian. Apabila dikaitkan
dengan sesuatu yang bersifat nonmateri, kata itu mengandung
arti membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan ketenangan
dan semaknanya.
 
Yang mengaitkan dengan hal-hal materi berpendapat bahwa ayat
ini berbicara tentang "pembedahan" yang pernah dilakukan oleh
para malaikat terhadap Nabi Muhammad Saw. kala beliau remaja.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh mufasir An
-Naisaburi.
 
Tetapi sepanjang penelitian penulis kata tersebut dengan
berbagai bentuknya terulang sebanyak 5 kali, dan tidak satu
pun yang digunakan dengan arti harfiah, apalagi bermakna
pembedahan. Akan lebih jelas lagi jika hal itu disejajarkan
dengan ayat yang berbicara tentang doa Nabi Musa a.s. di dalam
Al-Quran.
 
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku
urusanku dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka
mengerti perkataanku" (QS Thaha [20]: 25-28)
 
Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak
pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum
datangnya wahyu Al-Quran.
 
"Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya
(Al-Quran), tidak juga menulis satu tulisan dengan tanganmu,
(andai kata kamu pernah membaca dan menulis) pasti akan
benar-benar ragulah orang yang mengingkari-(mu)" (QS
Al-'Ankabut [29]: 48).
 
Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau Saw. adalah
orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang
memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi Saw. menganjurkan
umatnya belajar membaca dan menulis, namun beliau sendiri
tidak melakukannya, karena Allah Swt. ingin menjadikan beliau
sebagai bukti bahwa informasi yang diperolehnya benar-benar
bukan bersumber dari manusia, melainkan dari Allah Swt.
 
Ada juga ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau
membaca hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran
ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah
ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Menurut pendukungnya
ide ini dikuatkan antara lain oleh kata "sebelumnya" yang
terdapat pada ayat di atas.
 
Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran (QS
Al-A'raf [7] 157 dan 158) , dan keduanya menjadi sifat Nabi
Muhammad Saw. Memang kedua ayat itu turun di Makkah, meskipun
ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,
 
"Dia (Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta
huruf), seorang Rasul di antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)
 
Di sisi lain, harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika
itu menganggap kemampuan menulis sebagai bukti kelemahan
seseorang.
 
Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga
masyarakat amat mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis
dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan
kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis,
dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia
bermohon,
 
"Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis)
bagi kami adalah aib."
 
Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa
yang dianggap baik pada hari ini, boleh jadi sebelumnya
dinilai buruk. Pada masa kini kemampuan menghafal tidak
sepenting masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah
diperoleh.
 
Masa Kenabian
 
Pada usia 40 tahun, yang disebut oleh Al-Quran surat Al-Ahqaf
ayat 15 sebagai usia kesempurnaan, Muhammad Saw. diangkat
menjadi Nabi. Ditandai dengan turunnya wahyu pertama Iqra'
bismi Rabbik.
 
Sebelumnya beliau tidak pernah menduga akan mendapat tugas dan
kedudukan yang demikian terhormat. Karena itu ditemukan
ayat-ayat Al-Quran yang menguraikan sikap beliau terhadap
wahyu dan memberi kesan bahwa pada mulanya beliau sendiri
"ragu" dan gelisah mengenai hal yang dialaminya. QS Yunus
(10): 94 mengisyaratkan bahwa,
 
"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepadamu,
maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab Suci
sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94).
More

Membumikan Ajaran Langit

Peringatan Isra' Mi'raj kali ini, kiranya menemukan momentumnya yang paling signifikan. Mengapa? Sebagaimana kita ketahui, puncak dari perjalanan Nabi saw -- seperti yang tersebut dalam Alquran -- tak lain dan tak bukan adalah diperintahnya seluruh umat Islam untuk menjalankan ibadah shalat. Dalam simbolisme ibadah ini, terdapat ajaran yang erat kaitannya dengan persoalan kepemimpinan. Suatu kepemimpinan yang diridhoi Tuhan, dan berimplikasi bagi selamatnya kemanusiaan.
Elan reformasi yang terdapat pada ajaran/peristiwa Isra' Mi'raj, dapat kita refleksikan pada ayat Alquran yang mengungkap peristiwa tersebut. ''Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat'' (QS Al-Israa' 17:1).
Ayat tersebut, dibuka dengan ''tasbih'' (Subhaana/Maha Suci Allah), yakni suatu etos reformatif -- yang menurut kitab Durratun Nasihin karya Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi -- menyimpan hikmah; Pertama, bahwa kebiasaan bangsa Arab bertasbih di saat menjumpai hal-hal yang menakjubkan, maka lewat firman-Nya itu seolah-olah Allah kagum dengan rasul-Nya yang sempurna kemanusiaannya (al-insan al-kamil) sehingga di perjalankan-Nya secara menakjubkan. Kedua, dengan bertasbih, Allah bermaksud menepis sinisme masyarakat Arab yang menganggap rasul-Nya telah berdusta, sehingga redaksi ayat tersebut berbunyi, ''Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya....''
Pada banyak ayat di dalam Kitab Suci Alquran, dibuka atau diawali dengan ''tasbih'', baru kemudian ''tahmid'' (pujian bagi Allah). Ini dapat kita lihat misalnya; pada surat Thoha: 130, Qaf: 39, Ath-Thur:48, Al-Furqan: 58. Juga perhatikan bacaan berikut, sebuah bacaan yang disebut sebagian ulama sebagai ''kalbunya Asmaul Husna'' (al-qalbu li al-asmaa al-husnaa), yaitu: Subhaanallaahi wal-hamdu lillaahi wa-laailaahaillallaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah lah Yang Maha Agung).
Dalam bacaan tersebut, ''tasbih'' mendahului ''tahmid''; tasbih merupakan pembersihan, sedang tahmid adalah pemujian/penghiasan. Maka elan dan etos pembersihan mesti harus didahulukan ketimbang penghiasan. Ajaran ini sinkron dengan prinsip/kaidah fiqh yang mengatakan, bahwa: ''Mendahulukan upaya menghindar dari bahaya lebih diutamakan daripada melaksanakan kemaslahatan'' (Dar al-mafasid muqaddam 'ala jalb al-mashalih).
Apa yang perlu dihindari dan dibersihkan itu? Bahwa salah satu nilai-nilai reformasi yang hingga kini terus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia, adalah membersihkan (moral) aparatur pemerintahan dari hal-hal yang merugikan rakyat, termasuk diantaranya adalah KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Integritas moral saja tidak cukup, dalam upaya mempersatukan, membangun dan memajukan bangsa, tetapi juga harus dihindari hal-hal yang dapat menyebabkan perpecahan, kerusuhan serta kondisi chaos dan mandeg dalam perjalanan bangsa.
Tidak bermaksud kembali mengetengahkan ''Poros Langit'' (yakni, Kiai-kiai khos yang dipimpin oleh Kiai Abdullah Faqih dari Pesantren Langitan) yang sempat melangit pada detik-detik pemilihan Presiden RI, tetapi ajaran langit yang hendak disampaikan di sini memang rada mirip dengan apa yang pernah dilakukan Presiden KH Abdurrahman Wahid yakni, sowan kepada (arwah) para leluhur.
Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Usman al-Khaubawi dalam Durratun Nasihin -- bahwa menjelang peristiwa Isra' Mi'raj, tatkala berada di Masjid Haram, dalam keadaan antara tidur dan jaga, Rasulullah saw didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail. Kedua Malaikat ini kemudian membelah dan membersihkan dada Nabi dengan air zamzam, setelah selesai, Nabi diminta agar berwudlu. Selanjuttnya, dengan berkendaraan Buraq, bersama Malaikat Jibril, Nabi melaksanakan perjalanan (Isra'). Di suatu tempat, Buraq itu berhenti, dan Nabi diperintahkan oleh Malaikat agar melaksanakan shalat sunnah. Kepada Nabi, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa, ''Ke tempat inilah, kelak Anda akan berhijrah.'' Tempat itu adalah Madinah.
Perjalanan diteruskan, dan di suatu tempat, Buraq itu berhenti lagi. Dan di situ, Nabi juga melaksanakan shalat. ''Di tempat inilah, Nabi Musa berdialog dengan Tuhan.'' Itulah bukit Thursina. Perjalanan dilanjutkan, dan di suatu tempat, Buraq itu berhenti. Nabi melaksanakan shalat. ''Di tempat inilah, Nabi Isa dilahirkan,'' kata Jibril. Dan itulah Bait Lehem. Hingga sampailah di Masjid Aqsha. Para malaikat dan para Nabi (terdahulu) rupanya telah menunggu kedatangan Nabi bersama Malaikat Jibril. Selanjutnya Nabi memimpin shalat, di Masjid Aqsha.
Dari Masjid Aqsha, Nabi bersama Malaikat Jibril melanjutkan perjalanan (Mi'raj). Di tengah perjalanan, Nabi mendengar suara dari sisi kanan memanggil-manggil beliau, ''Ya Muhammad, turunkanlah kecepatanmu.'' Tetapi suara itu tidak dihiraukan oleh Nabi. Kendaraan terus melaju, tapi dari sebelah kiri, terdengar suara panggilan serupa, dan tidak dihiraukan oleh Nabi. Terakhir, terdengar panggilan suara dari seorang perempuan. Nabi pun tidak menanggapi. Dan dalam perjalanan itu, Jibril menawari Nabi dua jenis minuman, yakni susu dan arak, tetapi Nabi memilih susu.
Setelah Nabi selesai minum, Malaikat Jibril menjawab pertanyaan Nabi perihal suara-suara tadi, juga tentang makna minuman itu. Suara yang memanggil-manggil dari sisi kanan, menurut Jibril, adalah provokasi dari Yahudi, sedang dari sisi kiri adalah provokasi dari Nasrani. Tapi untunglah Nabi tidak menanggapi, sehingga -- menurut Jibril umatnya kelak tidak mudah terprovokasi untuk memasuki kedua agama tersebut.
Adapun tentang minuman, pilihan Nabi terhadap susu dibenarkan oleh Jibril, dengan begitu umatnya kelak akan berupaya sungguh-sungguh melaksanakan ajaran fitrah itu, dan tidak tersesat kemabukan dunia; sebagaimana tidak dihiraukannya suara memanggil-manggil yang datangnya dari seorang wanita (yakni, simbol perhiasan dunia).
Perjalanan Mi'raj dilanjutkan, melewati langit demi langit, di mana Nabi dapat bertemu (sowan) dengan para Nabi terdahulu di tiap shaf langit itu. Di antaranya Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Di Sidratul Muntaha (langit tertinggi), Nabi bertemu secara langsung dengan Allah, dan di situ pula Nabi mendapat perintah menegakkan shalat (termasuk umatnya). Para Nabi itu pula, terutama Musa, yang meminta agar kewajiban shalat diperingan, hingga menjadi lima waktu seperti sekarang (dengan perkenan Tuhan). Setelah itu, Nabi kembali ke bumi.
Dari ajaran langit tersebut, nilai-nilai apa kiranya yang signifikan bagi sebuah kepemimpinan? Pertama, sebagaimana tercermin dari ayat yang mengemukakan peristiwa Isra' Mi'raj, yang dimulai dengan ''tasbih'', juga peristiwa pembersihan dada Nabi dengan air zamzam ditambah dengan wudlu, maka dalam sebuah kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga integritas moral. Dalam konteks keindonesiaan, hal ini dapat diwujudkan dengan reformasi moral yang dimulai dari tingkat aparaturnya.
Kedua, selain integritas moral (akhlaqul karimah), yang tidak kalah pentingnya adalah belajar kepada sejarah. Ia bisa berupa nilai-nilai yang berkenaan dengan masa lampau, dapat pula berupa pengalaman dari orang per-orang yang pernah menjalankan sebuah kepemimpinan. Dengan ini kontiunitas kesejarahan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan. Dalam ungkapan kaidah fiqh, ''Memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik'' (Al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah).
Ketiga, dengan integritas moral serta nilai-nilai kesejahteraan itu, diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah terpincut godaan, sebagaimana teladan Nabi ketika melakukan Mi'raj-nya. Kepemimpinan yang demikian hanya dimungkinkan, manakala seluruh aparaturnya tegak lurus dalam melaksanakan keadilan (al-'adallah), dengan didasari oleh nilai-nilai persamaan di muka hukum (al- musawwah). Hal ini pun akan dapat berjalan baik, manakala aparatur tersebut bersikap konsisten dan disiplin (istiqamah), dapat dipercaya (amanah) serta mau merundingkan segala persoalan -- yang menyangkut kepemimpinan -- secara bersama (musyawarah). Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni jangan sampai ia berlagak atau bersikap sok pintar atau merasa paling tahu terhadap semua urusan (tanatthu'). Terhadap yang dipimpin jangan sampai mempersulit (tasydid), dan kebijakannya tidak melewati batas kemampuan yang ada (ghuluw), baik bagi yang dipimpin atau pun sang pemimpin itu sendiri.
Keempat, hendaknya kebijakan seorang pemimpin membumi kepada hati dan kebutuhan (rakyat) yang dipimpinnya. Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, hal itu telah diteladankan Nabi saw, ketika beliau sudi kembali (turun) ke bumi setelah bertemu Allah. Padahal pertemuan dengan Allah-lah cita-cita dan tujuan umat manusia, terlebih kaum sufi (para ''pencari Tuhan''). Kembalinya Rasulullah ini dimaksudkan untuk menyelamatkan nasib umat manusia (rahmatan lil'alamin). Maka dalam konteks ini, kebijakan yang membumi, mutlak diperlukan. Sebagaimana kaidah fiqh yang mengatakan, ''Kebijaksanaan rakyat'' (Tasharrufu al-imam 'ala ar-raiyyah manutun bi al-mashlahah).
Dan kelima, amanat Rasulullah saw untuk menegakkan shalat, pada dasarnya merupakan suatu simbolisme yang mengajarkan prinsip kepemimpinan, yakni pola hubungan antara hamba (manusia) kepada Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya. Dalam ajaran shalat, seseorang yang hendak melaksanakannya, diwajibkan terlebih dahulu berwudlu atau dalam keadaan suci. Pelaksanaan shalat itu sendiri, dimulai dengan mengagungkan Asma Allah (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan doa keselamatan bagi segenap umat manusia (salam).
Kepemimpinan dalam shalat, tercermin dengan adanya seorang imam, ketika shalat tersebut tidak dilaksanakan sendirian. Makmum (pengikut/rakyat) diharuskan menegur (dengan cara tertentu) apabila imam melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya. Bahkan, apabila makmum membiarkan imam melakukan kekeliruan (dengan tanpa kesengajaan) maka makmum-lah yang menanggung dosa kesalahan.
Bahwa shalat itu dimulai dengan mengagungkan Asma Allah, hal ini menunjukkan bahwa suatu kepemimpinan (bangsa) haruslah semata-mata didasari rasa amanah (kepercayaan yang diberikan Allah melalui suara rakyat). Karena itu, selain ia harus tulus ikhlas (lillaahi ta'ala) dan mempertanggungjawabkan tindakan kepada Allah SWT, yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kepercayaan. Ia berupaya mewujudkan cita-cita, serta memberikan pertanggungjawaban kepada rakyat yang telah mempercayainya.
More
 
Support : Lentera Hati | Google | Mozila Firefox
Copyright © 2013. GEMA SHOLAWAT SANTRI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Edited by Kompi Ajaib
Published by GEMA SHOLAWAT SANTRI Proudly powered by Blogger
Gema Sholawat Santri on Social Media close button minimize button maximize button
fbLike us on Facebook
twitterFollow us on Twitter
G+Follow us on Google+